Icip-Icip Jajanan Tempo Doloe di Pasar Rakyat Alun-Alun Sewandanan



Hari Sabtu adalah hari yang saya khususkan untuk keluarga. Bonding dengan anak dan pacaran dengan istri. Pagi menjelang siang itu saya membawa keluarga kecil kami menyusuri jalanan Jogja, melewati rel kereta api, sampai akhirnya parkir motor di Alun-alun Sewandanan, dari Jumat sampai Ahad ada Pasar Rakyat yang diselenggarakan oleh PLUT dan Dinas Koprasi UKM DI Yogyakarta.

Jogja beberapa hari terakhir memang panas luar biasa dari pagi sampai siang, nah nanti di atas jam dua belas hujan lebat akan turun. Nampaknya kami sampai di sana saat seringai matahari sedang ganas-ganasnya. Puanaaas sekali. Tapi tak apa, kami tetap happy melihat tenda ijo royo-royo berjajar manis dan banyak jajanan di sana.

Saya dan istri memang pecinta kuliner, sehingga urusan memangsa kami ini klop banget. Begitu masuk gerbang pameran eh... nggak ada gerbangnya ding. Ya intinya begitu menginjakkan kaki di lokasi Pasar Rakyat, kami langsung disambut oleh senyuman ramah seorang simbah dan bude. Begitu kami dekati, oh ternyata simbah ini penjual enthing-enthing gepuk. Makanan tempo dulu yang dibuat dari gula jawa dan kacang tanah. Enthing-enthing ini sensasional lho, sampai-sampai Garuda food membuat versi modernnya.

Tapi saya sih suka yang jadul-jadul, lebih klasik dan alami. Simbah dan bude menyambut kami dengan ramah, "Silahkan mampir, ini enthing-enthing yang paling enak dan paling lama, cap macan Leopard". Nah gitu dong, penjual itu harus PD, harus yakin bahwa dagangannya adalah dagangan terenak, pokoknya produk lain lewaaaaat!!!

Istri saya yang memang doyan makan apa saja kecuali ikan, langsung memberi kode penuh harap. Untungnya bude langsung menyodorkan sample, "Ada samplenya, monggo-monggo dicicipi." Paling afdol kalau jual makanan itu memang pakai sample, supaya ketahuan enak atau tidaknya. Jangan sampai kita sudah beli, berharap enak, eh sampai rumah misuh-misuh karena rasa tidak sesuai dengan harga dan packaging.

Saya dan istri segera mengambil sample dan mencicipi, "Sengaja dibuat tidak terlalu manis, Mbak." Kata bude seolah tahu isi hati istri saya.

"Oh pantes, biasanya manis banget dan lengket."

"Dulunya memang manis, terus ada masukan, akhirnya kami sesuaikan."

Mantab! Tandanya enthing-enthing Leopard ini memperhatikan suara konsumen. Mungkin yang protes banyak sehingga  dituruti kemauan konsumen itu. Toh kalau pada akhirnya lebih banyak yang suka yang untung kan si Leopard juga. Ada banyak produk selain enthing-enhting gepuk. Ampyang, enthing-enthing linting. Pokoknya kalau giginya bolong jangan makan banyak-banyak. Eh tapi istriku giginya bolong santai-santai aja sih.

Setelah icip icip saya memperhatikan dengan seksama stand milik Leopard ini. Kesannya adalah, biasa saja. Hanya ada beberapa produk yang dijajar di atas meja. Tidak ada hiasan atau asesoris yang menarik perhatian pembeli. Kalau saja simbah dan bude tidak senyum sumringah dan woro-woro promosi, mungkin kami sudah bablas karena hampir tidak terlihat.


Semoga di pameran-pameran berikutnya diadakan juga lomba menghias stand supaya lebih semarak dan meriah. Misal, karena merk dagangnya Leopard, bisa saja di depan stand diberi balon bentuk macan seperti yang dijual oleh para penjual balon anak-anak itu lho. Atau, bisa juga simbah dan bude memakai pakaian motif leopard, kan langsung mencolok mata dan menarik perhatian.

Saya lihat stand lain juga sama biasanya. Tidak ada yang greng. Mungkin mereka sudah lelah ya, angkut-angkut barang sehingga tidak sempat menghias stand atau bisa juga bingung, ingin dihias seperti apa?

 Sayang sekali kalau pasar rakyat ini berjalan biasa-biasa saja, tiga hari haruslah bisa menghadirkan kesan. Kalau bisa orang pengen datang terus ke Pasar Rakyat selama tiga hari itu. Promosi harus lebih digencarkan, karena saat kami datang, belum banyak pengunjung. Mungkin datang sore ya, sambil menyenja.

Untuk pemilihan lokasi, sebenarnya saya lebih sreg kalau tempatnya seperti biasa di sebelah kanan Kraton karena rasanya lebih teduh. Tapi, panitia pasti punya pertimbangan lain. Mungkin saat sore lebih ramai karena banyak juga pengunjung yang datang untuk jajan di angkringan Pakualaman.

Yah semoga Pasar Rakyat bisa semakin baik ke depannya. Pedagang untung, masyarakat riang. Ayo semangat kabeeeehhhhh!!!!

Komentar